Lalu ingatan ini datang menagih,
Tentang perjalanan panjang yang berdenyut adrenalin,
Kita lewati dengan tawa yang meledak,
Seperti kembang api di tengah gelap.
Sebuah tempat yang napasnya seram,
Namun anehnya melahirkan romansa,
Di tiap genggam, di tiap tatap,
Takut berubah jadi intim yang hangat.
Ah…
Indah, memang, ingatan itu,
Tapi siapa yang mengira—
Di balik romansa yang kita pahat,
kau sedang menimbun luka.
Luka yang kautumpuk diam-diam,
Sekadar demi menjaga hati,
Sampai akhirnya kau terkunci
di palung kecewa yang paling sunyi.




