Pagi ini kabut turun merangkul bumi,
Lagi dan lagi, ingatan ini mendesak, memberontak—
Menagih ruang untuk momen yang terlalu indah
untuk sekadar dilupakan.
Tatkala lututku gemetar kehilangan daya,
Kulihat gelisahmu yang kau sembunyikan di balik tenang,
Kau ulurkan tangan, kau tuntun langkahku,
Setia sampai garis akhir perjalanan.
Begitu pedulinya dirimu.
Ah…
Momen itu kini balik memukulku,
Saat sadar, tanpa sengaja,
aku yang menggores luka di dadamu.




